AIR SUSU DIBALAS AIR BERAS

oleh : Wiarsih Asikin

Sssssttt..... jangan kotori hidup dengan prilaku yang membuat sanak saudara, tetangga dan kenalan terpaksa menampilkan sikap manis hanya di depan mata. Sedangkan di belakang, mereka membicarakan kita sebagai seseorang yang sebenarnya tidak berhasil meraih simpati.
Hal ini tentu saja akan dialami oleh siapa saja yang sengaja atau tidak sengaja aktif membangun sifat buruk, sehingga yang tumbuh dan berkembang di dirinya tak jauh dari iri, dengki, curang, serakah, dan berbagai sifat buruk lainnya. 
Salah satu cara untuk melenyapkan sifat buruk yang sebenarnya merugikan diri sendiri adalah berusaha untuk tidak membalas air susu dengan air beras. Aslinya, memang berbunyi air susu dibalas air tuba. Tapi, mengingat tuba sangat membahayakan, maka meski tetap keliru, menggantikannya dengan air beras, tak lain untuk menghindari kesan bahwa kita masih punya niat untuk melakukan koreksi atau memperbaiki kelakuan buruk, meski di mata orang lain terlanjur melekat.
Membalas air susu dengan air beras, bukan berarti lebih lunak dari aslinya yang air tuba. Artinya, sasngat merugikan diri sendiri, mengingat kebaikan orang lain yang dibalas dengan keburukan, yang sebenarnya dirugikan bukan orang lain. Secara hakikat, sangat merugikan diri sendiri, karena mereka bisa mudah menilai bahwa diri kita termasuk seeorang yang tak memiliki aura positif.
Padahal, setiap manusia memiliki kebaikan dan anugerah dari Tuhan itu, jika tidak dikelola dengan baik, sepertinya hanya merugikan orang lain. Padahal, yang sangat rugi adalah diri sendiri. Tapi, bukankah membuat kita puas? Untuk sesaat, boleh jadi timbul kesan seperti itu. Selebihnya ? Sama sekali tidak seperti itu. Sebab, dalam jangka panjang nama kita tercatat di hati orang lain sebagai sosok yang sebenarnya patut dijauhi. Patut untuk tidak dijadikan teman apalagi sahabat.
Contohnya, semisal kita berutang ke teman atau tetangga, saat ditagih jangan malah marah marah dan dengan enteng mengancam tak akan membayar uang yang pernah kita pinjam darinya. Padahal, saat meminjam .dari yang disebutkan, kita tak segan dan juga tak malu untuk mengeluh. Malah, dilengkapi dengan penampilan yang penuh iba, karena ketika itu sangat berharap agar dia berkenan memberi pinjaman yang tentu saja tanpa bunga.
Nah, mengapa saat waktunya tiba dia datang menagih,malah kita sambut dengan sikap yang tak sekedar marah, tapi juga diiringi ancaman tidak akan membayar piutangnya? Jika sikap seperti ini malah dianggap hebat, karena yang bersangkutan lalu pulang tanpa membawa uangnya yang pernah kita pakai, sepertinya ada yang perlu diperbaiki deh dalam diri kita. 
Setidaknya, kita harus mengingat ngingat, apakah setiap kali mencuci beras, airnya yang juga putih seperti susu, langsung di buang ke tempat semestinya atau malah langsung kita simpan di jerigen atau di botol. Jika ternyata disimpan di jerigen atau di botol, berarti keburukan yang melekat dalam diri telah mengendap sejak lama. Itu sebabnya, dengan mudah malah mengancam untuk tidak membayar utang.
Semisal saat ditagih kita merasa malu karena belum punya uang untuk membayar, juga bukan diapresiasi dengan mempertontonkan amarah yang berlanjut dengan ancaman. Sebab, jika memang demikian kondisinya, lebih asyik berterus terang padanya, bahwa sebenarnya kita sangat ingin membayar hanya uang untuk melunasi pinjaman belum ada, mengingat belum dapat uang lebih yang bisa dikumpulkan untuk melunasi utang.
Percayalah, jika malah berinisitif untuk berterus terang, menjelaskan dengan jujur masalah yang kita hadapi dan kemudian meminta agar berkenan memberi waktu dan akan segera membayar begitu punya uang tanpa ditagih, sekali pun dia rentenir dijamin bakal mengerti dan memaklumi. Cuma, kalau ngutangnya sama rentenir, bunganya tidak diabaikan alias terus dihitung sesuai dengan lamanya waktu kita menunda pembayaran. 
Jika bukan rentenir, yakinlah, sang penagih hutang tak akan marah. Malah, lantaran kita jujur dan berterus terang mengisahkan kesulitan yang saat ditagih masih belum bisa diatasi, yang bersangkutan malah bisa memperlihatkan simpati dan empatinya yang mengguah jiwa. Begitu tahu yang ditagih dalam keadaan susah, jika yang bersangkutan berjiwa sosial, bukan tidak mungkin malah berkeinginan membantu dan mengatakan, " Kalau begitu, jangan dulu dipikirkan jika akhirnya cuma membuat anda pusing. Sekarang saya pamit, tapi sebelum saya beranjak dari sini, tolong terima bantuan dari saya untuk mengatasi kesulitan yang tengah dihadapi. Tolong jangan lihat jumlahnya, tapi gunakanlah manfaatnya untuk mengatasi kesulitan yang sedang melilit anda, semoga esok atau lusa anda sudah bisa mengatasi masalah yang dihadapi"
Percayalah, membalas air susu dengan air susu jauh lebih elok dan begitulah kebijakan sebuah jiwa yang mestinya melekat di setiap orang, sehingga yang kemudian dilakukan bukan air susu dibalas dengan air beras.
Yakinlah, Sang Khalik yang Maha Kuasa, mengetahui setiap perbuatan hambanya dan mencatat setiap prilaku, untuk kemudian memberi ganjaran yang setimpal. Jadi jika perbuatan baik-meski hanya sebiji zahra, pasti diganjar dengan kebaikan. Jika sebaliknya, balasannya bukan kebaikan, tapi keburukan, sesuai dengan prilaku yang kita tampilkan.
Wow... alangkah indah jika selalu berbuat dan berprilaku baik.










Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "AIR SUSU DIBALAS AIR BERAS"

Post a Comment